Sejarah Hadis Prakodifikasi: Hadis Pada Periode Rasul, Hadis Pada Periode Sahabat dan Tabi'in.
SEJARAH HADIS PRAKODIFIKASI: HADIS PADA PERIODE RASUL, SAHABAT DAN TABI'IN
A. PENDAHULUAN
Dalam
sejarahnya hadis mengalami perkembangan yang agak lambat dan bertahap
dibandingkan dengan Alquran. Hal ini terjadi karena pada saat itu penulisan
hadis secara umum sangat dilarang. Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada
abad II hiriah dan mengalami masa kejayaan pada abad III hijriah.
Perkembangan
dan pengkodifikasian hadis dibagi menjadi 5 masa yaitu masa Nabi Muhammad Saw,
pada masa sahabat, tabiin, tabi’ tabi’in, dan periode setelah tabi’ tabi’in.
perkembangan hadis pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan
larangan Nabi untuk menulis hadis. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran
Nabi akan tercampirnya nash Alquran dengan hadis. Selain itu, juga disebabkan
fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis Alquran.
B.
SEJARAH HADIS PRAKODIFIKASI
Masa prakodifikasi
hadis berarti asa sebelum hadis dibukukan, dimulai dari sejak munculnya hadis
pertamayang diriwayatkan dari Rasulullah Saw dengan rentang waktu yang dilalui
asa prakodifikasi ini mencakup tiga periode penting dalam sejarah transmisi
hadis yaitu periode Rasulullah Saw, periode sahabat dan periode tabi’in.
Secara garis besar,
pola penyusunan kitab Hadis yang berkembang pada kurun waktu abad II H sampai
dengan abad IV H dapat dipolakan menjadi empat bentuk metode penulisan kitab
Hadis, yaitu: sunan, mushannaf, jâmi‘, dan musnad.[1]
Upaya
penulisan (kodifikasi) hadits secara resmi dilatar belakangi oleh beberapa
faktor, diantaranya :
1. Al-Qur‘an telah
dibukukan dan tersebar luas, sehingga tidak dikhawatirkan lagi akan
bercampurnya dengan hadits.
2. Para perawi hadits
telah banyak yang wafat. Bila terus dibiarkan, dikhawatirkan hadits juga akan
hilang seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu perlu segera dibukukan.
3. Daerah kekuasaan
Islam semakin luas. Peristiwa-peristiwa yang dihadapi umat Islam semakin
kompleks. Hal ini tentu memerlukan petunjuk dari hadits sebagai sumber agama.
4. Pemalsuan hadits
semakin merajalela, kalau dibiarkan dapat mengancam kemurnian dan kelestarian
hadits. Maka dari itu perlu diadakan pembukuan hadits guna menyelamatkan hadits
dari pemalsuan.[2]
Pandangan Goldziher
tentang sejarah kodifikasi Hadits sebenarnya kurang lebih sama saja seperti
pandangan kaum Muslim. Ia berpendapat kaum Muslim sejak masa dini telah
berusaha menjaga, menyebarkan, dan mentransmisikan “ajaran-ajaran guru
[mereka]”.Peran Nabi yang amat besar dalam membentuk sikap dan tingkah laku umat
Islam, ia akui, sangatlah besar. Namun demikian, ia juga berpendapat bahwa
otoritas Nabi yang amat besar akan sangat menggoda sejumlah Muslim untuk
memanipulasi Hadits demi kepentingan mereka. Dan ini adalah godaaan yang tak
tertahankan!. [3]
1.
HADIS
PADA PERIODE RASUL
Di masa lalu, bermula
sejak masa Nabi saw dan sahabat, memang terbuka peluang untuk membukukan Hadis,
tetapi untuk menghindarkan tercampur baurnya dengan Alqur’an, maka nanti pada
masa tabi’in barulah Hadis-hadis dibukukan.[4]
Pada periode ini
sejarah hadis disebut ‘Ashr al-wahyi wa at-takwin (masa turunnya wahyu dan
pembentukan masyarakat islam. Pada masa inilah, hadis kemudian lahir yang
berupa sabda Nabi, perbuatan Nabi, dan ketetapan Nabi yang fungsinya adalah
untuk menerangkan Alquran serta menegakkan syariat Islam dalam kehidupan
masyarakat. Pada masa ini hadis disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada para
sahabat dan masyarakat luas melalui khutbah, pertemuan antar kelompok, dirumah
beliau sendiri, dan bahkan pasar ketika beliau sedang bepergian. Media-media
tersebut sangat efektif untuk penyampaian hadis.
Ada beberapa teknik
atau cara Rasul SAW dalam menyampaikan Hadits kepada para sahabat, yang
disesuaikan dengan kondisi para sahabatnya. Untuk itu, teknik atau cara yang digunakan
Nabi SAW dalam menyampaikan Hadits, sebagai berikut :
a.
Melalui para jama'ah pada pusat pembinaannya yang disebut majlis al-'Ilmi.
Melalui majlis ini para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima
hadits,
sehingga mereka berusaha untuk selalu mengkonsentrasikan diri untuk mengikuti
kegiatannya.
b.
Dalam banyak kesempatan Rasul SAW juga menyampaikan haditsnya melalui para
sahabat tertentu, yang kemudian oleh para tersebut disampaikannya kepada orang
lain. Hal ini karena terkadang ketika ia mewurudkan suatu Hadits, para sahabat
yang hadir hanya beberapa orang saja, baik karena disengaja oleh Rasul SAW
sendiri atau secara kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang
saja, bahkan hanya satu orang, seperti Hadits-hadits yang ditulis oleh Abdullah
bin Amr bin al-'Ash. Untuk hal-hal yang
sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis
(terutama yang menyangkut hubungan suami isteri), ia sampaikan melalui
isteri-isterinya. Begitu juga sikap para sahabat, jika ada hal-hal yang
berkaitan dengan soal di atas, karena segan bertanya kepada Rasul SAW,
seringkali ditanyakan melalui isteriisterinya.
c.
Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada' dan
fathu Makkah. d. Melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para
sahabatnya (jalan musya'hadah), seperti yang berkaitan dengan praktek-praktek
ibadah dan muamalah. e. Para sahabat yang mengemukana masalah atau bertanya dan
berdiolog langsung kepada Nabi SAW. Melihat kenyataan ini, umat Islam pada saat
itu secara langsung memperoleh Hadits dari Rasul SAW sebagai sumber Hadits,
baik itu berupa perkataan, perbuatan dan taqrir. Antara Rasul SAW dengan mereka
tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan
mereka. Para sahabat menerima Hadits dari Rasul SAW adakalanya langsung dari
beliau sendiri, mereka langsung mendengar atau melihat contoh perilaku yang
dilakukan Nabi SAW, baik karena ada sesuatu soal yang diajukan oleh seseorang
kepada Nabi lalu Nabi menjawabnya, atau karena Nabi sendiri yang memulai
pembicaan tentang suatu persoalan. [5]
Wahyu yang diturunkan
Allah Swt kepadanya dijelaskan melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau
penetapan Rasulullah Saw. sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari
apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman Rasulullah adalah
satu-satunya contoh bagi para sahabat karena Rasulullah memiliki sifat
kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Larangan mnulis
hadis pada masa ini tidaklah umum kepada semua sahabat, ada sahabat tertentu
yang diberikan izin untuk menulis hadis. Nabi melarang menulis hadis karena
khawatir tercampur dengan Alquran.
2.
HADIS PADA PERIODE SAHABAT
Periode ini disebut
‘Ashr At-tatsabbut wa al-iqlal min Al- Riwayah (masa membatasi dan
menyedikitkan riwayat). Nabi Muhammad Saw wafat pada tahun 11 H. kepada umatnya
beliau meninggalkan dua pegangan dasar bagi pedoman hidup, yaitu Alquran dan
hadis (sunnah) yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat.
Setelah Nabi Saw
wafat, kendali kepemimpinan umat islam berada ditangan sahabat Nabi. Sahabat
Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar As-shiddiq (wafat
13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khattab (wafat 23 H/644 M, Utsman
bin Affan (wafat 35 H/656 M), Dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M).
Pada masa khulafaur
Rasyidin, sebenarnya sudah mulai tampak kebutuhan akan hadis, terutama pada
masalah-masalah yang khalifah sendiri tidak tahu dan belum mendapatkannya
secara langsung dari Rasulullah. Namun hal itu masih sangat minim sekali, dan
hanya terbatas pada ketidaktahuan sahabat pada satu kasus yang pernah ada di
masa Rasulullah, tapi kemudian diselesaikan oleh sahabat yang lain yang
menyaksikannya secara langsung pada masa Rasul. Perkembangan Islam yang semakin
pesat pada masa Umar bin Khattab membuat perkembangan meniscayakan perlunya
tenaga pengajar agama, penyambung lidah Rasulullah serta penyampai
petuah-petuah Rasulullah mengenai berbagai hal yang terkait dengan kehidupan
manusia.[6]
Berbagai hadis Nabi
yang tertulis di dalam kitab-kitab hadis sekarang ini, asal mulanya adalah
hasil kesaksian sahabat terhadap sabda, perbuatan, taqriri, atau dan hal ihwal
Nabi. Apa yang disaksikan oleh sahabat itu lalu disampaikan kepada orang lain.
Orang lain yang menerima riwayat hadis itu mungkin saja berstatus sebagai
sahabat, muhadhramun, atau tabi’in. muhadhramun dan tabi’in yang menerima
riwayat hadis tadi lalu menyampaikan hadis itu kepada tabi’in atau kepada atha’ al-tabi’in (generasi umat Islam
sesudah tabi’in),
demikianlah seterusnya. Sehingga hadis itu akhirnya sampai kepada periwayat
yang melakukan kegiatan penghimpunan hadis. Buah karya para penghimpun
hadis (al-mukharrij) itulah yang menjadi
sumber pengetahuan dan rujukan hadis pada masa berikutnya sampai pada masa
sekarang. Cara periwayat memperoleh dan menyampaikan hadis pada masa Nabi
tidaklah sama dengan pada masa sahabat. Demikian pula periwayatan pada masa
sahabat tidak sama dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Cara periwayatan
hadis pada mana Nabi lebih terbebas dari syarat-syarat tertentu bila
dibandingkan dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Hal ini disebabkan,
karena pada masa Nabi selain tidak ada bukti yang pasti tentang telah
terjadinya pemalsuan hadis, juga karena pada masa itu seseorang akan lebih
mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada hadis yang diragukan kesahihannya.
Makin jauh jarak waktu dari masa hidup Nabi, makin sulit pengujian kebenaran
suatu hadis.[7]
3.
HADIS PADA PERIODE TABI’IN
Menurut
bahasa, tabiin merupakan bentuk jamak dari kata tab’i atau tabi’un. Sedangkan
tabi adalah isim fail dari kata tabi’a yang bermakna berjalan dibelakangnya.
(Luis Ma’luf:1992). Sedangkan menurut istilah, tabiin memiliki beberapa
definisi yang bersumber dari para ahli hadis. Dalam hal ini diantara pengertian
tabiin menurut istilah yang dikemukakan oleh para ahli hadis. Tabiin adalah
orang Islam yang hanya bertemu dengan sahabat, berguru kepadanya, tidak bertemu
dengan nabi saw dan tidak pula semasa dengan nabi saw.(Hasbi Ashishiddiqie:1989)
Tabiin adalah orang yang menjumpai sahabat dalam keadaan beriman dan mati dalam
Islam.(Ibnu Hajar al-Asqalany:t.th.). Menurut Abdul Azis Dahlan, yang dinamakan
dengan tabiin adalah harus berjumpa dengan sahabat nabi saw sekalipun dengan sahabat
yang termuda (sigar al-sahabah), harus beriman dan meninggal dalam keadaan
beragama Islam, dan pertemuan dengan sahabat rasulullah saw bukan hanya sekedar
berjumpa dan beriman tetapi harus betul-betul bergaul.(Abdul Azis Dahlan
et.al.:1996).[8]
Dapat
dipahami bahwa para sahabat Nabi aktif dalam meriwayatkan dan menuliskan hadits
Nabi dan mengajarkannya kepada murid-muridnya dari golongan Tabi’in. Mata
rantai penulisan hadis berkelanjutan sampai pada masa kodifikasi resmi. Pada
bab ini penulis hanya mengahadirkan beberapa kitab atau shahifah saja yang
familiar pada masanya. Diantaranya sebagai berikut :
a.
As-Shahifah as-Shahifah milik Hammam
bin Munabbih Hammam bin Munabbih bertemu dengan Abu Hurairah dan menuliskan
darinya hadis-hadis Nabi kemudian dikumpulkan dalam sebuah naskah yang diberi
nama dengan As-Shahifah- As-Shahifah,
Shahifah milik Hammam diabadikan secara sempurna dan menyeluruh sampai
pada masa kontemporer di museum Dimasyq
dan Berlin dan ditahkik oleh Dr. Muhammad Hamidullah. Naskah Hammam dinukil
oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Bukhari dalam Kitab Sahihnya yang
ditempatkan secara terpisahpisah dalam bab yang berbeda-beda. Shahifah milik Hammam bin Munabbih seolah
menjadi saksi mata rantai kelanjutan penulisan hadis turun-temurun sampai pada
masa kita sekarang dan pendapat bahwa hadis adalah produk abad satu awal
terbantahkan dengan sendirinya. Olehnya itu ia memiliki keistimewaan tersendiri
dalam perjalanan sejarah perkembangan dan penulisan Hadis Nabi. Sahifah Hammam
memuat 138 hadis Nabi, dan menurut Ibnu Hajar bahwa Hammam meriwayatkan 140
hadis dari Abu Hurairah.38
b.
Kitab
Amir bin Syarahil bin Amru As-Sya’bi (19 H-103 H) Amir As-Sya’bi seorang
Imam besar, Hafidz, dan Ahli hukum, beliau kemudian diangkat menjadi hakim di
Kufah. Amir As-Sya’bi dikenal dengan hafalannya yang kuat, cukup dengan
mendengarnya sekali saja. Ia berpesan pada murid-muridnya dengan mengatakan “
tulislah apa yang kamu dengar dariku meskipun di tembok.” Penulisan hadis pada
masa Tabiin masih bercampuraduk dari pelbagai tema hadis Nabi. Amir
As-Sya’bi sebagaimana dinyatakan oleh
Imam Shuyuti adalah orang pertama dari kalangan tabi’in yang mengklasifikasikan
tema-tema hadis dan mengklasifikasikan dari tema tersebut dengan judul atau sub-judul dengan hadis yang
terkait seperti kitab Salat, Zakat dst.39 Namun
Amir As-Sya’bi memfokuskan penulisan kitabnya dalam persolan fiqh
khususnya permasalahan kehakiman sesuai dengan jabatannya sebagai hakim.
c.
Kitab Hasan al-Bashari (21 H-110 H)
Sosok tabi’in yang memiliki lautan ilmu yang luas, seorang ahli fiqh dan tak
terpungkiri kejujurannya dalam meriwayatkan hadis meskipun terdapat riwayat
darinya terkontaminasi dengan tangantangan tak mengindahkan amanah ilmiah.
Hasan al-Bashari memiliki jumlah kitab-kitab hadis yang ia kumpulkan dari para
sahabat dan banyak merujuk dan merevisi kitabnya agar terhindar dalam
kesalahan.
Diantara
murid-murid yang meriwayatkan dan menjaga hadis Nabi dalam kitabnya adalah :
Husain Abu Sufyan bin Husain alWashity,
Haqs al-Munqiry, Hamid bin Abi Hamid al-Tawiil, Khalid alAbdi, Sahl bin Husain
bin Muslim al-Bahili, Mu’awiyah bin Abdul karim al-Tsaqafi, Hisyam bin Hassan
al-Azdi dan Yunus bin Ubaid.[9]
Sedangkan
keistimewaan dari tabiin tersebut adalah telah menggantikan kedudukan sahabat
dalam mengembang tugas keilmuan dan keagamaan. Oleh karena itu mereka patut
menerima penghargaan dan penghormatan serta pengakuan tentang keridaan Allah
Swt kepada mereka. Dan keistimewaan para periwayat tabiin adalah berlandaskan
pada daerah masingmasing setiap tabiin, seperti di Mekkah ada Ata bin Abi
Rabah, di Madinah ada Abu Salamah bin Abdur Rahman bin Auf, dan lain
sebagainya.
Periwayat
generasi pertama dari kalangan sahabat mentransmisikan suatu matan (konten)
hadis kepada generasi selanjutnya dari komunitas tabi’in. Generasi tabi’in
kemudian mentransmisikan matan tersebut pada generasi selanjutnya dari kalangan
tabi’ut tabi’in, dan begitu seterusnya hingga sampai pada masa para mukharrij
(kolektor) hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud,
dan Ibnu Majah.[10]
C. KESIMPULAN
Masa
prakodifikasi hadis berarti asa sebelum hadis dibukukan, dimulai dari sejak
munculnya hadis pertamayang diriwayatkan dari Rasulullah Saw dengan rentang
waktu yang dilalui asa prakodifikasi ini mencakup tiga periode penting dalam
sejarah transmisi hadis yaitu periode Rasulullah Saw, periode sahabat dan
periode tabi’in.
Wahyu yang diturunkan
Allah Swt kepadanya dijelaskan melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau
penetapan Rasulullah Saw. sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari
apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman Rasulullah adalah
satu-satunya contoh bagi para sahabat karena Rasulullah memiliki sifat
kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Larangan mnulis
hadis pada masa ini tidaklah umum kepada semua sahabat, ada sahabat tertentu
yang diberikan izin untuk menulis hadis. Nabi melarang menulis hadis karena
khawatir tercampur dengan Alquran.
Setelah Nabi Saw
wafat, kendali kepemimpinan umat islam berada ditangan sahabat Nabi. Sahabat
Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar As-shiddiq (wafat
13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khattab (wafat 23 H/644 M, Utsman
bin Affan (wafat 35 H/656 M), Dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M).
Menurut
bahasa, tabiin merupakan bentuk jamak dari kata tab’i atau tabi’un. Sedangkan
tabi adalah isim fail dari kata tabi’a yang bermakna berjalan dibelakangnya.
(Luis Ma’luf:1992). Sedangkan menurut istilah, tabiin memiliki beberapa definisi
yang bersumber dari para ahli hadis. Dalam hal ini diantara pengertian tabiin
menurut istilah yang dikemukakan oleh para ahli hadis. Tabiin adalah orang
Islam yang hanya bertemu dengan sahabat, berguru kepadanya, tidak bertemu
dengan nabi saw dan tidak pula semasa dengan nabi saw.(Hasbi
Ashishiddiqie:1989) Tabiin adalah orang yang menjumpai sahabat dalam keadaan
beriman dan mati dalam Islam.(Ibnu Hajar al-Asqalany:t.th.). Menurut Abdul Azis
Dahlan, yang dinamakan dengan tabiin adalah harus berjumpa dengan sahabat nabi
saw sekalipun dengan sahabat yang termuda (sigar al-sahabah), harus beriman dan
meninggal dalam keadaan beragama Islam, dan pertemuan dengan sahabat rasulullah
saw bukan hanya sekedar berjumpa dan beriman tetapi harus betul-betul bergaul.(Abdul
Azis Dahlan et.al.:1996).
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad, Dosen Ilmu, Hadis
Fakultas, and Ushuluddin Filsafat, ‘Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi Pra
Kodifikasi Muhammad Abduh | 63’, 6 (2015), 78–80 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kesejarahan
hadis nabi prakodifikasi.pdf>
Afwadzi, Benny,
‘MEMBANGUN INTEGRASI ILMU-ILMU SOSIAL DAN HADIS NABI’, 1.1 (2016), 108
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/membangun masa (tabiin).pdf>
Fatkhi, Rifqi
Muhammad, ‘DOMINASI PARADIGMA FIKIH DALAM PERIWAYATAN DAN KODIFIKASI HADIS’,
XII.2 (1989), 104 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kodifikasi hadis masa
rasul.pdf>
JUNAID, ‘Aktualisasi
Tabiin Perempuan Dalam Periwayatan Hadis’, XI.1 (2018), 299
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/periwayatan hadis masa tabiin.pdf>
Ma, Muhammad, ‘DARI
MUIR HINGGA MOTZKI: Hadits Dan Asal-Usul Hukum Islam Dalam Diskursus
Orientalisme’, 5.1 (2013), 47 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/hadis dan
asal hukum islam prakodifikasi.pdf>
MUHAJIRIN, Ulumul
Hadits II, ed. by NoeR Fikri, 1st edn (PALEMBANG, 2016)
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/BUKU ULUMUL HADITS II LENGKAP
prakodifikasi.pdf>
QUDSY, SAIFUDDIN
ZUHRY, ‘UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN SEMANGAT PENULISAN HADIS’, XIV.2 (2013), 259
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/umar bin abdul aziz masa rasul.pdf>
Sanaky, Hujair AH.,
‘HADITS PADA MASA NABI’, 8–9
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/HADITS_PADA_MASA_NABI-3.pdf>
Sanusi, ‘MASA DEPAN
HADIS DAN ULUM HADIS’, Al Hikmah, Vol. XIV N.2 (2013), 58
<file:///C:/Users/User/Downloads/416-738-1-PB.pdf%0D>
zain lukman, ‘Sejarah
Hadis Pada Masa Permulaan Dan Penghimpunannya’, 2.1 (2014), 10
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/sejarah hadis pada masa permulaan,
rasul.pdf>
[1]
Rifqi Muhammad Fatkhi, ‘DOMINASI PARADIGMA FIKIH DALAM PERIWAYATAN DAN
KODIFIKASI HADIS’, XII.2 (1989), 104
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/kodifikasi hadis masa rasul.pdf>.
[2]
MUHAJIRIN, Ulumul Hadits II, ed.
by NoeR Fikri, 1st edn (PALEMBANG, 2016)
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/BUKU ULUMUL HADITS II LENGKAP
prakodifikasi.pdf>.
[3]
Muhammad Ma, ‘DARI MUIR HINGGA MOTZKI: Hadits Dan Asal-Usul Hukum Islam
Dalam Diskursus Orientalisme’, 5.1 (2013), 47
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/hadis dan asal hukum islam
prakodifikasi.pdf>.
[4]
Sanusi, ‘MASA DEPAN HADIS DAN ULUM HADIS’, Al Hikmah, Vol. XIV N.2 (2013), 58
<file:///C:/Users/User/Downloads/416-738-1-PB.pdf%0D>.
[5] Hujair AH. Sanaky, ‘HADITS PADA MASA NABI’, 8–9
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/HADITS_PADA_MASA_NABI-3.pdf>.
[6]
SAIFUDDIN ZUHRY QUDSY, ‘UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN SEMANGAT PENULISAN HADIS’,
XIV.2 (2013), 259 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/umar bin abdul aziz masa
rasul.pdf>.
[7]
zain lukman, ‘Sejarah Hadis Pada Masa Permulaan Dan Penghimpunannya’, 2.1
(2014), 10 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/sejarah hadis pada masa permulaan,
rasul.pdf>.
[8]
JUNAID, ‘Aktualisasi Tabiin Perempuan Dalam Periwayatan Hadis’, XI.1
(2018), 299 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/periwayatan hadis masa
tabiin.pdf>.
[9] Muhammad Abduh and others, ‘Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi Pra
Kodifikasi Muhammad Abduh | 63’, 6 (2015), 78–80
<file:///C:/Users/ACER/Downloads/kesejarahan hadis nabi
prakodifikasi.pdf>.
[10] Benny Afwadzi, ‘MEMBANGUN INTEGRASI ILMU-ILMU SOSIAL DAN HADIS NABI’, 1.1
(2016), 108 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/membangun masa
(tabiin).pdf>.
Komentar
Posting Komentar