Sejarah Hadis Prakodifikasi: Hadis Pada Periode Rasul, Hadis Pada Periode Sahabat dan Tabi'in.


SEJARAH HADIS PRAKODIFIKASI: HADIS PADA PERIODE RASUL, SAHABAT DAN TABI'IN


A. PENDAHULUAN
Dalam sejarahnya hadis mengalami perkembangan yang agak lambat dan bertahap dibandingkan dengan Alquran. Hal ini terjadi karena pada saat itu penulisan hadis secara umum sangat dilarang. Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada abad II hiriah dan mengalami masa kejayaan pada abad III hijriah.
Perkembangan dan pengkodifikasian hadis dibagi menjadi 5 masa yaitu masa Nabi Muhammad Saw, pada masa sahabat, tabiin, tabi’ tabi’in, dan periode setelah tabi’ tabi’in. perkembangan hadis pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadis. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampirnya nash Alquran dengan hadis. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis Alquran.

B. SEJARAH HADIS PRAKODIFIKASI
Masa prakodifikasi hadis berarti asa sebelum hadis dibukukan, dimulai dari sejak munculnya hadis pertamayang diriwayatkan dari Rasulullah Saw dengan rentang waktu yang dilalui asa prakodifikasi ini mencakup tiga periode penting dalam sejarah transmisi hadis yaitu periode Rasulullah Saw, periode sahabat dan periode tabi’in.
Secara garis besar, pola penyusunan kitab Hadis yang berkembang pada kurun waktu abad II H sampai dengan abad IV H dapat dipolakan menjadi empat bentuk metode penulisan kitab Hadis, yaitu: sunan, mushannaf, jâmi‘, dan musnad.[1]
Upaya penulisan (kodifikasi) hadits secara resmi dilatar belakangi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1. Al-Qur‘an telah dibukukan dan tersebar luas, sehingga tidak dikhawatirkan lagi akan bercampurnya dengan hadits.
2. Para perawi hadits telah banyak yang wafat. Bila terus dibiarkan, dikhawatirkan hadits juga akan hilang seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu perlu segera dibukukan.
3. Daerah kekuasaan Islam semakin luas. Peristiwa-peristiwa yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Hal ini tentu memerlukan petunjuk dari hadits sebagai sumber agama.
4. Pemalsuan hadits semakin merajalela, kalau dibiarkan dapat mengancam kemurnian dan kelestarian hadits. Maka dari itu perlu diadakan pembukuan hadits guna menyelamatkan hadits dari pemalsuan.[2]
Pandangan Goldziher tentang sejarah kodifikasi Hadits sebenarnya kurang lebih sama saja seperti pandangan kaum Muslim. Ia berpendapat kaum Muslim sejak masa dini telah berusaha menjaga, menyebarkan, dan mentransmisikan “ajaran-ajaran guru [mereka]”.Peran Nabi yang amat besar dalam membentuk sikap dan tingkah laku umat Islam, ia akui, sangatlah besar. Namun demikian, ia juga berpendapat bahwa otoritas Nabi yang amat besar akan sangat menggoda sejumlah Muslim untuk memanipulasi Hadits demi kepentingan mereka. Dan ini adalah godaaan yang tak tertahankan!. [3]

1.   HADIS PADA PERIODE RASUL

Di masa lalu, bermula sejak masa Nabi saw dan sahabat, memang terbuka peluang untuk membukukan Hadis, tetapi untuk menghindarkan tercampur baurnya dengan Alqur’an, maka nanti pada masa tabi’in barulah Hadis-hadis dibukukan.[4]
Pada periode ini sejarah hadis disebut ‘Ashr al-wahyi wa at-takwin (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islam. Pada masa inilah, hadis kemudian lahir yang berupa sabda Nabi, perbuatan Nabi, dan ketetapan Nabi yang fungsinya adalah untuk menerangkan Alquran serta menegakkan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Pada masa ini hadis disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabat dan masyarakat luas melalui khutbah, pertemuan antar kelompok, dirumah beliau sendiri, dan bahkan pasar ketika beliau sedang bepergian. Media-media tersebut sangat efektif untuk penyampaian hadis.
Ada beberapa teknik atau cara Rasul SAW dalam menyampaikan Hadits kepada para sahabat, yang disesuaikan dengan kondisi para sahabatnya. Untuk itu, teknik atau cara yang digunakan Nabi SAW dalam menyampaikan Hadits, sebagai berikut :
a. Melalui para jama'ah pada pusat pembinaannya yang disebut majlis al-'Ilmi. Melalui majlis ini para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima
hadits, sehingga mereka berusaha untuk selalu mengkonsentrasikan diri untuk mengikuti kegiatannya.
b. Dalam banyak kesempatan Rasul SAW juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu, yang kemudian oleh para tersebut disampaikannya kepada orang lain. Hal ini karena terkadang ketika ia mewurudkan suatu Hadits, para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, baik karena disengaja oleh Rasul SAW sendiri atau secara kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, bahkan hanya satu orang, seperti Hadits-hadits yang ditulis oleh Abdullah bin Amr bin al-'Ash.  Untuk hal-hal yang sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis (terutama yang menyangkut hubungan suami isteri), ia sampaikan melalui isteri-isterinya. Begitu juga sikap para sahabat, jika ada hal-hal yang berkaitan dengan soal di atas, karena segan bertanya kepada Rasul SAW, seringkali ditanyakan melalui isteriisterinya.
c. Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada' dan fathu Makkah. d. Melalui perbuatan langsung yang disaksikan oleh para sahabatnya (jalan musya'hadah), seperti yang berkaitan dengan praktek-praktek ibadah dan muamalah. e. Para sahabat yang mengemukana masalah atau bertanya dan berdiolog langsung kepada Nabi SAW. Melihat kenyataan ini, umat Islam pada saat itu secara langsung memperoleh Hadits dari Rasul SAW sebagai sumber Hadits, baik itu berupa perkataan, perbuatan dan taqrir. Antara Rasul SAW dengan mereka tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka. Para sahabat menerima Hadits dari Rasul SAW adakalanya langsung dari beliau sendiri, mereka langsung mendengar atau melihat contoh perilaku yang dilakukan Nabi SAW, baik karena ada sesuatu soal yang diajukan oleh seseorang kepada Nabi lalu Nabi menjawabnya, atau karena Nabi sendiri yang memulai pembicaan tentang suatu persoalan. [5]

Wahyu yang diturunkan Allah Swt kepadanya dijelaskan melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau penetapan Rasulullah Saw. sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman Rasulullah adalah satu-satunya contoh bagi para sahabat karena Rasulullah memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Larangan mnulis hadis pada masa ini tidaklah umum kepada semua sahabat, ada sahabat tertentu yang diberikan izin untuk menulis hadis. Nabi melarang menulis hadis karena khawatir tercampur dengan Alquran.

2. HADIS PADA PERIODE SAHABAT
Periode ini disebut ‘Ashr At-tatsabbut wa al-iqlal min Al- Riwayah (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi Muhammad Saw wafat pada tahun 11 H. kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan dasar bagi pedoman hidup, yaitu Alquran dan hadis (sunnah) yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat.
Setelah Nabi Saw wafat, kendali kepemimpinan umat islam berada ditangan sahabat Nabi. Sahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar As-shiddiq (wafat 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khattab (wafat 23 H/644 M, Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M), Dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M).
Pada masa khulafaur Rasyidin, sebenarnya sudah mulai tampak kebutuhan akan hadis, terutama pada masalah-masalah yang khalifah sendiri tidak tahu dan belum mendapatkannya secara langsung dari Rasulullah. Namun hal itu masih sangat minim sekali, dan hanya terbatas pada ketidaktahuan sahabat pada satu kasus yang pernah ada di masa Rasulullah, tapi kemudian diselesaikan oleh sahabat yang lain yang menyaksikannya secara langsung pada masa Rasul. Perkembangan Islam yang semakin pesat pada masa Umar bin Khattab membuat perkembangan meniscayakan perlunya tenaga pengajar agama, penyambung lidah Rasulullah serta penyampai petuah-petuah Rasulullah mengenai berbagai hal yang terkait dengan kehidupan manusia.[6]
Berbagai hadis Nabi yang tertulis di dalam kitab-kitab hadis sekarang ini, asal mulanya adalah hasil kesaksian sahabat terhadap sabda, perbuatan, taqriri, atau dan hal ihwal Nabi. Apa yang disaksikan oleh sahabat itu lalu disampaikan kepada orang lain. Orang lain yang menerima riwayat hadis itu mungkin saja berstatus sebagai sahabat, muhadhramun, atau tabi’in. muhadhramun dan tabi’in yang menerima riwayat hadis tadi lalu menyampaikan hadis itu kepada tabi’in atau kepada atha al-tabiin (generasi umat Islam sesudah tabiin), demikianlah seterusnya. Sehingga hadis itu akhirnya sampai kepada periwayat yang melakukan kegiatan penghimpunan hadis. Buah karya para penghimpun hadis  (al-mukharrij) itulah yang menjadi sumber pengetahuan dan rujukan hadis pada masa berikutnya sampai pada masa sekarang. Cara periwayat memperoleh dan menyampaikan hadis pada masa Nabi tidaklah sama dengan pada masa sahabat. Demikian pula periwayatan pada masa sahabat tidak sama dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Cara periwayatan hadis pada mana Nabi lebih terbebas dari syarat-syarat tertentu bila dibandingkan dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Hal ini disebabkan, karena pada masa Nabi selain tidak ada bukti yang pasti tentang telah terjadinya pemalsuan hadis, juga karena pada masa itu seseorang akan lebih mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada hadis yang diragukan kesahihannya. Makin jauh jarak waktu dari masa hidup Nabi, makin sulit pengujian kebenaran suatu hadis.[7]
3. HADIS PADA PERIODE TABI’IN
Menurut bahasa, tabiin merupakan bentuk jamak dari kata tab’i atau tabi’un. Sedangkan tabi adalah isim fail dari kata tabi’a yang bermakna berjalan dibelakangnya. (Luis Ma’luf:1992). Sedangkan menurut istilah, tabiin memiliki beberapa definisi yang bersumber dari para ahli hadis. Dalam hal ini diantara pengertian tabiin menurut istilah yang dikemukakan oleh para ahli hadis. Tabiin adalah orang Islam yang hanya bertemu dengan sahabat, berguru kepadanya, tidak bertemu dengan nabi saw dan tidak pula semasa dengan nabi saw.(Hasbi Ashishiddiqie:1989) Tabiin adalah orang yang menjumpai sahabat dalam keadaan beriman dan mati dalam Islam.(Ibnu Hajar al-Asqalany:t.th.). Menurut Abdul Azis Dahlan, yang dinamakan dengan tabiin adalah harus berjumpa dengan sahabat nabi saw sekalipun dengan sahabat yang termuda (sigar al-sahabah), harus beriman dan meninggal dalam keadaan beragama Islam, dan pertemuan dengan sahabat rasulullah saw bukan hanya sekedar berjumpa dan beriman tetapi harus betul-betul bergaul.(Abdul Azis Dahlan et.al.:1996).[8]
Dapat dipahami bahwa para sahabat Nabi aktif dalam meriwayatkan dan menuliskan hadits Nabi dan mengajarkannya kepada murid-muridnya dari golongan Tabi’in. Mata rantai penulisan hadis berkelanjutan sampai pada masa kodifikasi resmi. Pada bab ini penulis hanya mengahadirkan beberapa kitab atau shahifah saja yang familiar pada masanya. Diantaranya sebagai berikut :
a.    As-Shahifah as-Shahifah milik Hammam bin Munabbih Hammam bin Munabbih bertemu dengan Abu Hurairah dan menuliskan darinya hadis-hadis Nabi kemudian dikumpulkan dalam sebuah naskah yang diberi nama dengan As-Shahifah- As-Shahifah,  Shahifah milik Hammam diabadikan secara sempurna dan menyeluruh sampai pada masa kontemporer  di museum Dimasyq dan Berlin dan ditahkik oleh Dr. Muhammad Hamidullah. Naskah Hammam dinukil oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Bukhari dalam Kitab Sahihnya yang ditempatkan secara terpisahpisah dalam bab yang berbeda-beda.  Shahifah milik Hammam bin Munabbih seolah menjadi saksi mata rantai kelanjutan penulisan hadis turun-temurun sampai pada masa kita sekarang dan pendapat bahwa hadis adalah produk abad satu awal terbantahkan dengan sendirinya. Olehnya itu ia memiliki keistimewaan tersendiri dalam perjalanan sejarah perkembangan dan penulisan Hadis Nabi. Sahifah Hammam memuat 138 hadis Nabi, dan menurut Ibnu Hajar bahwa Hammam meriwayatkan 140 hadis dari Abu Hurairah.38
b.   Kitab  Amir bin Syarahil bin Amru As-Sya’bi (19 H-103 H) Amir As-Sya’bi seorang Imam besar, Hafidz, dan Ahli hukum, beliau kemudian diangkat menjadi hakim di Kufah. Amir As-Sya’bi dikenal dengan hafalannya yang kuat, cukup dengan mendengarnya sekali saja. Ia berpesan pada murid-muridnya dengan mengatakan “ tulislah apa yang kamu dengar dariku meskipun di tembok.” Penulisan hadis pada masa Tabiin masih bercampuraduk dari pelbagai tema hadis Nabi. Amir As-Sya’bi  sebagaimana dinyatakan oleh Imam Shuyuti adalah orang pertama dari kalangan tabi’in yang mengklasifikasikan tema-tema hadis dan mengklasifikasikan dari tema tersebut dengan  judul atau sub-judul dengan hadis yang terkait seperti kitab Salat, Zakat dst.39 Namun  Amir As-Sya’bi memfokuskan penulisan kitabnya dalam persolan fiqh khususnya permasalahan kehakiman sesuai dengan jabatannya sebagai hakim.
c.    Kitab Hasan al-Bashari (21 H-110 H) Sosok tabi’in yang memiliki lautan ilmu yang luas, seorang ahli fiqh dan tak terpungkiri kejujurannya dalam meriwayatkan hadis meskipun terdapat riwayat darinya terkontaminasi dengan tangantangan tak mengindahkan amanah ilmiah. Hasan al-Bashari memiliki jumlah kitab-kitab hadis yang ia kumpulkan dari para sahabat dan banyak merujuk dan merevisi kitabnya agar terhindar dalam kesalahan.
Diantara murid-murid yang meriwayatkan dan menjaga hadis Nabi dalam kitabnya adalah : Husain  Abu Sufyan bin Husain alWashity, Haqs al-Munqiry, Hamid bin Abi Hamid al-Tawiil, Khalid alAbdi, Sahl bin Husain bin Muslim al-Bahili, Mu’awiyah bin Abdul karim al-Tsaqafi, Hisyam bin Hassan al-Azdi dan Yunus bin Ubaid.[9]
Sedangkan keistimewaan dari tabiin tersebut adalah telah menggantikan kedudukan sahabat dalam mengembang tugas keilmuan dan keagamaan. Oleh karena itu mereka patut menerima penghargaan dan penghormatan serta pengakuan tentang keridaan Allah Swt kepada mereka. Dan keistimewaan para periwayat tabiin adalah berlandaskan pada daerah masingmasing setiap tabiin, seperti di Mekkah ada Ata bin Abi Rabah, di Madinah ada Abu Salamah bin Abdur Rahman bin Auf, dan lain sebagainya.
Periwayat generasi pertama dari kalangan sahabat mentransmisikan suatu matan (konten) hadis kepada generasi selanjutnya dari komunitas tabi’in. Generasi tabi’in kemudian mentransmisikan matan tersebut pada generasi selanjutnya dari kalangan tabi’ut tabi’in, dan begitu seterusnya hingga sampai pada masa para mukharrij (kolektor) hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.[10]
C. KESIMPULAN
Masa prakodifikasi hadis berarti asa sebelum hadis dibukukan, dimulai dari sejak munculnya hadis pertamayang diriwayatkan dari Rasulullah Saw dengan rentang waktu yang dilalui asa prakodifikasi ini mencakup tiga periode penting dalam sejarah transmisi hadis yaitu periode Rasulullah Saw, periode sahabat dan periode tabi’in.

Wahyu yang diturunkan Allah Swt kepadanya dijelaskan melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau penetapan Rasulullah Saw. sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman Rasulullah adalah satu-satunya contoh bagi para sahabat karena Rasulullah memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Larangan mnulis hadis pada masa ini tidaklah umum kepada semua sahabat, ada sahabat tertentu yang diberikan izin untuk menulis hadis. Nabi melarang menulis hadis karena khawatir tercampur dengan Alquran.
Setelah Nabi Saw wafat, kendali kepemimpinan umat islam berada ditangan sahabat Nabi. Sahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar As-shiddiq (wafat 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khattab (wafat 23 H/644 M, Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M), Dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M).
Menurut bahasa, tabiin merupakan bentuk jamak dari kata tab’i atau tabi’un. Sedangkan tabi adalah isim fail dari kata tabi’a yang bermakna berjalan dibelakangnya. (Luis Ma’luf:1992). Sedangkan menurut istilah, tabiin memiliki beberapa definisi yang bersumber dari para ahli hadis. Dalam hal ini diantara pengertian tabiin menurut istilah yang dikemukakan oleh para ahli hadis. Tabiin adalah orang Islam yang hanya bertemu dengan sahabat, berguru kepadanya, tidak bertemu dengan nabi saw dan tidak pula semasa dengan nabi saw.(Hasbi Ashishiddiqie:1989) Tabiin adalah orang yang menjumpai sahabat dalam keadaan beriman dan mati dalam Islam.(Ibnu Hajar al-Asqalany:t.th.). Menurut Abdul Azis Dahlan, yang dinamakan dengan tabiin adalah harus berjumpa dengan sahabat nabi saw sekalipun dengan sahabat yang termuda (sigar al-sahabah), harus beriman dan meninggal dalam keadaan beragama Islam, dan pertemuan dengan sahabat rasulullah saw bukan hanya sekedar berjumpa dan beriman tetapi harus betul-betul bergaul.(Abdul Azis Dahlan et.al.:1996).
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad, Dosen Ilmu, Hadis Fakultas, and Ushuluddin Filsafat, ‘Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi Pra Kodifikasi Muhammad Abduh | 63’, 6 (2015), 78–80 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kesejarahan hadis nabi prakodifikasi.pdf>
Afwadzi, Benny, ‘MEMBANGUN INTEGRASI ILMU-ILMU SOSIAL DAN HADIS NABI’, 1.1 (2016), 108 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/membangun masa (tabiin).pdf>
Fatkhi, Rifqi Muhammad, ‘DOMINASI PARADIGMA FIKIH DALAM PERIWAYATAN DAN KODIFIKASI HADIS’, XII.2 (1989), 104 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kodifikasi hadis masa rasul.pdf>
JUNAID, ‘Aktualisasi Tabiin Perempuan Dalam Periwayatan Hadis’, XI.1 (2018), 299 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/periwayatan hadis masa tabiin.pdf>
Ma, Muhammad, ‘DARI MUIR HINGGA MOTZKI: Hadits Dan Asal-Usul Hukum Islam Dalam Diskursus Orientalisme’, 5.1 (2013), 47 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/hadis dan asal hukum islam prakodifikasi.pdf>
MUHAJIRIN, Ulumul Hadits II, ed. by NoeR Fikri, 1st edn (PALEMBANG, 2016) <file:///C:/Users/ACER/Downloads/BUKU ULUMUL HADITS II LENGKAP prakodifikasi.pdf>
QUDSY, SAIFUDDIN ZUHRY, ‘UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN SEMANGAT PENULISAN HADIS’, XIV.2 (2013), 259 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/umar bin abdul aziz masa rasul.pdf>
Sanaky, Hujair AH., ‘HADITS PADA MASA NABI’, 8–9 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/HADITS_PADA_MASA_NABI-3.pdf>
Sanusi, ‘MASA DEPAN HADIS DAN ULUM HADIS’, Al Hikmah, Vol. XIV N.2 (2013), 58 <file:///C:/Users/User/Downloads/416-738-1-PB.pdf%0D>
zain lukman, ‘Sejarah Hadis Pada Masa Permulaan Dan Penghimpunannya’, 2.1 (2014), 10 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/sejarah hadis pada masa permulaan, rasul.pdf>





[1] Rifqi Muhammad Fatkhi, ‘DOMINASI PARADIGMA FIKIH DALAM PERIWAYATAN DAN KODIFIKASI HADIS’, XII.2 (1989), 104 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kodifikasi hadis masa rasul.pdf>.
[2] MUHAJIRIN, Ulumul Hadits II, ed. by NoeR Fikri, 1st edn (PALEMBANG, 2016) <file:///C:/Users/ACER/Downloads/BUKU ULUMUL HADITS II LENGKAP prakodifikasi.pdf>.
[3] Muhammad Ma, ‘DARI MUIR HINGGA MOTZKI: Hadits Dan Asal-Usul Hukum Islam Dalam Diskursus Orientalisme’, 5.1 (2013), 47 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/hadis dan asal hukum islam prakodifikasi.pdf>.

[4] Sanusi, ‘MASA DEPAN HADIS DAN ULUM HADIS’, Al Hikmah, Vol. XIV N.2 (2013), 58 <file:///C:/Users/User/Downloads/416-738-1-PB.pdf%0D>.
[5] Hujair AH. Sanaky, ‘HADITS PADA MASA NABI’, 8–9 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/HADITS_PADA_MASA_NABI-3.pdf>.
[6] SAIFUDDIN ZUHRY QUDSY, ‘UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN SEMANGAT PENULISAN HADIS’, XIV.2 (2013), 259 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/umar bin abdul aziz masa rasul.pdf>.
[7] zain lukman, ‘Sejarah Hadis Pada Masa Permulaan Dan Penghimpunannya’, 2.1 (2014), 10 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/sejarah hadis pada masa permulaan, rasul.pdf>.
[8] JUNAID, ‘Aktualisasi Tabiin Perempuan Dalam Periwayatan Hadis’, XI.1 (2018), 299 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/periwayatan hadis masa tabiin.pdf>.
               [9] Muhammad Abduh and others, ‘Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi Pra Kodifikasi Muhammad Abduh | 63’, 6 (2015), 78–80 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/kesejarahan hadis nabi prakodifikasi.pdf>.
              [10] Benny Afwadzi, ‘MEMBANGUN INTEGRASI ILMU-ILMU SOSIAL DAN HADIS NABI’, 1.1 (2016), 108 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/membangun masa (tabiin).pdf>.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH KODIFIKASI HADIS: PEMBUKUAN HADIS ABAD II, III, IV, V H DAN SAMPAI SEKARANG

Ilmu Al-Jarh wa Ta’dil : Pengertian, Objek Pembahasan dan Lafaz-lafaz serta Maratib Al-Jarh wan Ta’dil

HADIS MAUDHU : PENGERTIAN, SEJARAH KEMUNCULAN DAN FAKTOR MELATAR BELAKANGINYA, KRITERIA HADIS MAUHDU