pengertian hadist, sunnah,khabar dan atsar


Pendahuluan

Pada hakikatnya hidup maka umat Islam memiliki Alquran sebagai pedoman hidupnya. Alquran adalah mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw yang di dalamnya terkandung umat Islam di dunia sama dengan umat agama lain yaitu sama-sama memiliki kitab sebagai pedoman. Jika umat Kristen memiliki kitab Injil, umat Budha memiiki kitab Weda, dan umat Hindu memiliki kitab Trimurti sebagai pedoman niali-nilai kebenaran, ketetapan yang mutlak mengenai agama Islam. Namun ada pembahasan dalam Alquran yang masih bersifat global. Oleh karena itu, muncullah al-Hadits yang berfungsi menyempurnakan dan menjelaskan kitab-kitab terdahulu.
Akan tetapi masih banyak orang yang memperdebatkan antara hadis dan sunah. Apakah hal itu sama maksudnya? ataukah antara sunnah dan hadis  memiliki pengertian dan maksud yang berbeda?
Oleh karena itu, kami akan coba memaparkan dan memberikan penjelasan mengenai Hadis, Sunnah, Khabar, Atsar dan hal-hal yang berkaitan dengan Sunnah ditinjau dari segi makna maupun secara strukturnya.

A.   Pengertian hadist
Hadis berasal dari bahasa arab yakni Al hadits, bentuk jamak dari  al ahaadist, al hidsaan dan al hudsaan.

Secara etimologi hadis memiliki beberapa arti, yaitu :
a. Jadid yang berarti baru.
b. Qarib yang berarti dekat dan juga dapat diartikan yang belum lama lagi     terjadi.
c. Khabar berarti warta yaitu sesuatu diucapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang.[1]

Hadist dijadikan sumber hokum islam selain al-qur’an dalam hal ini kedudukan hadist merupakan sumber hukum kedua setelah al-qur’an.



1.   Pengertian hadist secara bahasa.

Hadist atau al-hadist menurut bahasa disebut dengan al jaded minal asyya  (sesuatu yang baru), lawan dari qadim (sesuatu yang dekat). Hal ini mencakup sesuatu (perkataan) bail itu banyak ataupun sedikit. Hadist juga sering disebut dengan al-khabar (yang berarti berita) yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan sari seseorang kepada orang laindan ada kemungkinan ada benar atau salahnya, yang sama maknanya dengan hadist.
Hadist  adalah berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan,             pembicaraan dan cerita.

2.   Pengertian hadist secara istilah.
Secara istilah, hadis adalah segala ucapan nabi, perbuatan dan keadaannya.
“Menurut istilah ahli ushul, hadis adalah segala sesuatu yang dikeluarkan dari Nabi SAW selain Alquran baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara. Menurut istilah fuqaha, hadis adalah segala sesuatu yang tidak bersangkut paut dengan  masalah fardhu atau wajib. Menurut ulama Hadis mendefinisikannya sebagai segala sesuatu yang diberitakan Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ikhwal nabi.Menurut jumhur muhadisin sebagaimana ditulis oleh Fatchur Rahman yaitu hadis adalah segala sesuatu yang disandarakan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan dan sebagainya.”
Dengan demikian, hadist menurut ushuliyyun adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. baik perkataan , perbuatan  maupun ketetapannya yang berhubungan dengan ketentuan-ketentuan Allah yang disyariatkan kepada manusia biasa.
Semua hadis yang sampai kepada kita, dilihat dari segi kualitasnya untuk dapat diamalkan ataupun ditinggalkan, dapat dibagi kepada tiga, yaitu (shahih, hasan dan dhaif). Semua hadis yang sampai kepada kita, dilihat dari segi kualitasnya untuk dapat diamalkan ataupun ditinggalkan, dapat dibagi kepada tiga, yaitu (shahih, hasan dan dhaif).
B.   Pengertian sunnah
    Sunnah bisa berarti perilaku (sirah), jalan (thariqah), kebiasaan atau ketentuan.  Sunnah dalam pengertian ini bisa mencakup sunnah yang baik (sunnah hasanah) maupun sunnah yang buruk (sunnah qabihah).
Masyarakat Arab pra Islam menggunakan kata sunnah untuk menyebut praktik kuno dan berlaku terus menerus dari masyarakat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Oleh karena itu, konon suku-suku Arab pra-Islam memiliki sunnah masing-masing yang dianggap sebagai dasar dari identitas dan kebanggaan mereka.[2]
1.   Pengertian sunnah secara bahasa.
Pengertian Sunnah menurut bahasa adalah:
“Jalan yang terpuji dan atau yang tercela” Dalam kaitan sunnah yang diartikan dengan  السيرةatau  ,الطريقة Khālid bin 'Utbah al-Hāżi mengatakan:   2فلا تجزعن من سيرة انت سرتها فاول راض سنة من يسيرىا "Janganlah kau halangi perbuatan yang telah kau lakukan, karena orang yang pertama menyenangi suatu perbuatan adalah orang yang melakukannya." [3]

                          
2.   Pengertian sunnah secara istilah.
 Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Dalam pengertian ini  Alqur’an menyebutnya dengan Sunnah al-Awwaliin, yakni sunnah yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada orang-orang terdahulu (Al-Anfal:38). Istilah sunnah juga terdapat dalam teks hadits, yang mencakup  pengertian sunnah yang baik dan sunnah yang buruk, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang mengatakan:  “Barangsiapa di dalam Islam memperkenalkan perilaku atau kebiasaan baik (sunnah hasanah), ia akan memperoleh pahala atas perilaku tersebut dan pahala orang-orang yang ikut melakukannya di kemudian hari. Sebaliknya siapa yang memperkenalkan perilaku yang buruk (sunnah sayyi’ah), ia akan memperoleh dosa perilaku tersebut dan dosa orangorang yang melakukannya di kemudian hari tanpa ada sesuatu yang mengurangi dosa mereka”
Dari perspektif al-Sunnah, kita boleh mengambil contoh daripada beberapa tindakan Rasulullah saw sebaik sahaja beliau diangkat menjadi Rasul.[4]
Dalam memperkatakan tentang al-Sunnah ini, lerdapat'berbagai definisi yang telah dikemukakan oleh para ulama mengikut bidang ilmu dan jurusan masing-masing. [5] Kita dapati bahwa definisi-definisi tersebut mempunyai persamaan dan perbezan antara satu sama lain. Ini berlaku kerana fokus yang diberikan oleh sesuatu bidang itu berbeza dengan bidang yang lain.
C.   Pengertian khabar.
   Laras bahasa al-Khabar merupakan suatu ucapan yang digunakan oleh pekata dialog dalam berinteraksi dengan pekata yang lain menerusi ayat-ayat dialog Alquran. Ia mempunyai kebarangkalian dari aspek kesahan atau kepalsuannya berdasarkan kepada pekata ucapan tersebut.  Ini bermaksud setiap kenyataan yang dikeluarkan mengandungi kebarangkalian sama ada benar atau tidak kecuali setelah penutur kenyataan tersebut telah dikenal pasti. Jika penutur tersebut merupakan Allah s.w.t, para malaikat yang membawa utusannya dan para rasul yang diutus, maka kenyataan tersebut secara pastinya merupakan kenyataan yang sangat benar. Berbanding dengan kenyataan manusia dan makhluk-makhluk yang lain, kenyataan mereka masih lagi mengandungi kebarangkalian benar atau palsu. [6]
1.   Pengertian khabar secara bahasa.
Khabar menurut bahasa berarti an-Naba’ (berita –berita), sedang jama’nya adalah akhbar, berita yang disampaikan seseorang kepada orang lain.
2.   Pengertian khabar secara istilah.
Khabar menurut etimologi ialah berita yang disampaikan dari seseorang. Jamaknya adalah akhbar, orang banyak menyampaikan khabar dinamai khabir. Khabar digunakan untuk segala sesuatu yang diterima dari yang selain Nabi SAW. Mengingat hal inilah orang yang meriwayatkan hadits dinamai muhaddits, dan orang yang meriwayatkan sejarah dinamai akhbary. Oleh karenanya, menurut mereka, khabar berbada dengan hadits.[7]
Secara istilah khabar adalah sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad Saw. dan dari yang lain seperti para sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in atau orang-orang setelahnya.

D.  Pengertian atsar.
Jumur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, sahabat dan tabi’in. Sedangkan menurut ulama khurasan bahwa atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu’. Atsar sangat besar artinya dalam menentukan langkahlangkah dakwah berikutnya tanpa menganalisis atsar dakwah maka kemungkinan kesalahan strategi yang sangat merugikan pencapaian tujuan dakwah akan terulang kembali. [8] Dengan kata lain atsar adalah respon atau
efek yang timbul pada mad'u setelah menerima pesan dakwah.[9]

1.   Pengertian atsar secara bahasa.
Pengertian atsar menurut bahasa sama artinya dengan sunnah, hadist. Dengan demikian keduanya merupakan sumber utama bagi fikih Islam, dan selain keduanya berarti pengikut saja. Para sahabat terkadang sepakat atau berbeda pendapat, tetapi tidak pernah bertentangan dengan Alquran atau sunnah. [10]

2.   Pengertian atsar secara istilah.
Pengertian atsar menurut istilah yaitu segala sesuatu yang berasal dari sahabat yang juga disandarkan kepada Nabi SAW. Atsar juga sama pentingnya dengan khabar, hadist, dan sunnah.

E.   Kesimpulan.
     Hadist juga sering disebut dengan al-khabar (yang berarti berita) yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan sari seseorang kepada orang laindan ada kemungkinan ada benar atau salahnya, yang sama maknanya dengan hadist.
 Sunnah bisa berarti perilaku (sirah), jalan (thariqah), kebiasaan atau ketentuan.  Sunnah dalam pengertian ini bisa mencakup sunnah yang baik (sunnah hasanah) maupun sunnah yang buruk (sunnah qabihah).
Laras bahasa al-Khabar merupakan suatu ucapan yang digunakan oleh pekata dialog dalam berinteraksi dengan pekata yang lain menerusi ayat-ayat dialog Alquran. Ia mempunyai kebarangkalian dari aspek kesahan atau kepalsuannya berdasarkan kepada pekata ucapan tersebut.  Ini bermaksud setiap kenyataan yang dikeluarkan mengandungi kebarangkalian sama ada benar atau tidak kecuali setelah penutur kenyataan tersebut telah dikenal pasti. Jika penutur tersebut merupakan Allah s.w.t, para malaikat yang membawa utusannya dan para rasul yang diutus, maka kenyataan tersebut secara pastinya merupakan kenyataan yang sangat benar. Berbanding dengan kenyataan manusia dan makhluk-makhluk yang lain, kenyataan mereka masih lagi mengandungi kebarangkalian benar atau palsu
Jumur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, sahabat dan tabi’in. Sedangkan menurut ulama khurasan bahwa atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu’. Atsar sangat besar artinya dalam menentukan langkahlangkah dakwah berikutnya tanpa menganalisis atsar dakwah maka kemungkinan kesalahan strategi yang sangat merugikan pencapaian tujuan dakwah akan terulang kembali.

Daftar Pustaka.
B.Mat, Dr Johari, ‘AHL AL-SUNNAH WA AL-JAMA ’ AH : Satu Pengenalan’, USULUDDIN, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/al ash sunnah.pdf>
Fallis, A.G, ‘LANDASAN TEORI’, Journal of Chemical Information and Modeling, 53.9 (2013), 12 <https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004>
Hairillah, ‘KEDUDUKAN AS-SUNNAH DAN TANTANGANNYA DALAM HAL AKTUALISASI HUKUM ISLAM’, Mazahib, Vol. XIV, (2015), 193 <file:///D:/Cindy/Pak Roihan/kedudukan assunnah.pdf>
Ii, B A B, and A Dakwah, .‘.Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir , (Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), Hlm. 439. 15’, 7 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/bAB 2 ATSAR.pdf>
Kaharuddin, ‘HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM: (Tinjauan Paham Inkar As-Sunnah, Syi’ah, Dan Orientalis)’, Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 2.2 (2018), 457–67 <file:///D:/refernsi ulumul hadis/174-Article Text-433-1-10-20190112.pdf>
Khoirul, anam m, ‘DASAR-DASAR ISTINBATH HUKUM IMAM SYAFI’I’, The British Journal of Psychiatry, 11 <https://doi.org/10.1192/bjp.112.483.211-a>
Lubis, Aisyah Amini, ‘Defenisi , Struktur Dan Urgensi Hadis’, 0305182081, 2018, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/Defenisi_Hadis_Sunnah_Khabar-1.pdf%0D>
Sutoyo, ‘PENGEMBANGAN PEMAHAMAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM Sutoyo, M.Ag.*’, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/pengembangan pemahaman as sunnah.pdf%0D>
Taubat, Pendekatan, Nasuha Dalam, and Menangani Remaja, ‘Malaysian Journal for Islamic Studies Malaysian Journal for Islamic Studies’, 2018, 2
Zakaria Stapa, Noranizah Yusuf, Abdul Fatah Shaharudin, ‘Pendidikan Menurut Al-Quran Dan Sunnah Serta Peranannya Dalam Memperkasakan Tamadun Ummah’, Jurnal Hadhari Special Edition, 2012, 11 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/pendidikan menurut al quran dan sunnah.pdf%0D>













[1] Aisyah Amini Lubis, ‘Defenisi , Struktur Dan Urgensi Hadis’, 0305182081, 2018, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/Defenisi_Hadis_Sunnah_Khabar-1.pdf%0D>.
[2] Hairillah, ‘KEDUDUKAN AS-SUNNAH DAN TANTANGANNYA DALAM HAL AKTUALISASI HUKUM ISLAM’, Mazahib, Vol. XIV, (2015), 193 <file:///D:/Cindy/Pak Roihan/kedudukan assunnah.pdf>.
[3] Sutoyo, ‘PENGEMBANGAN PEMAHAMAN AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM Sutoyo, M.Ag.*’, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/pengembangan pemahaman as sunnah.pdf%0D>.
[4] Abdul Fatah Shaharudin Zakaria Stapa, Noranizah Yusuf, ‘Pendidikan Menurut Al-Quran Dan Sunnah Serta Peranannya Dalam Memperkasakan Tamadun Ummah’, Jurnal Hadhari Special Edition, 2012, 11 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/pendidikan menurut al quran dan sunnah.pdf%0D>.
[5] Dr Johari B.Mat, ‘AHL AL-SUNNAH WA AL-JAMA ’ AH : Satu Pengenalan’, USULUDDIN, 2 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/al ash sunnah.pdf>.
[6] Pendekatan Taubat, Nasuha Dalam, and Menangani Remaja, ‘Malaysian Journal for Islamic Studies Malaysian Journal for Islamic Studies’, 2018, 2.
[7]Kaharuddin, ‘HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM: (Tinjauan Paham Inkar As-Sunnah, Syi’ah, Dan Orientalis)’, Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 2.2 (2018), 457–67 <file:///D:/refernsi ulumul hadis/174-Article Text-433-1-10-20190112.pdf>.
[8] B A B Ii and A Dakwah, .‘.Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir , (Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), Hlm. 439. 15’, 7 <file:///C:/Users/ACER/Downloads/bAB 2 ATSAR.pdf>.
[9] A.G Fallis, ‘LANDASAN TEORI’, Journal of Chemical Information and Modeling, 53.9 (2013), 12 <https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004>.
[10] anam m Khoirul, ‘DASAR-DASAR ISTINBATH HUKUM IMAM SYAFI’I’, The British Journal of Psychiatry, 11 <https://doi.org/10.1192/bjp.112.483.211-a>.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HADIS MAUDHU : PENGERTIAN, SEJARAH KEMUNCULAN DAN FAKTOR MELATAR BELAKANGINYA, KRITERIA HADIS MAUHDU

SEJARAH KODIFIKASI HADIS: PEMBUKUAN HADIS ABAD II, III, IV, V H DAN SAMPAI SEKARANG

Ilmu Al-Jarh wa Ta’dil : Pengertian, Objek Pembahasan dan Lafaz-lafaz serta Maratib Al-Jarh wan Ta’dil